“Zorg, dat als ik terug kom hier stad is gebouwd!”

Ketika melintasi jembatan Sungai Cikapundung yang kini terletak di antara Gedung Merdeka dan Gedung PLN, Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811) istirahat sejenak. Sambil menunjuk dengan tongkatnya, ia berujar: “Zorg, dat als ik terug kom hier stad gebouwd!” . Ungkapan itu menjadi terkenal karena artinya “Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota sudah dibangun!” (Hardjasaputra, 2000). Perintah itu kemudian disusul dengan surat tanggal 25 Mei 1810. Dalam surat tersebut ia memerintahkan ibukota Kabaupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang yang terletak di sebelah timur dipindahkan ke sisi jalan raya pos yang sedang dibangun.

Ketika itu, wilayah yang dimaksud tersebut masih merupakan bagian dari Regentschaap (Kabupaten) Bandung. Sejak tahun 1641, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung menempati lokasi di daerah Dayeuhkolot di pinggir Sungai Citarum. Letaknya sekitar sebelas kilometer selatan kota Bandung. Saat jalan raya pos dibangun, Kabupaten Bandung dipimpin Bupati RAA Wiranatakusumah II (1794-1829).

Peletak dasar pembangunan kota Bandung tersebut dijuluki Dalem Kaum karena makamnya terletak di daerah Kaum yang terletak di belakang Masjid Agung (kini Masjid Raya Kota Bandung, Jawa Barat).

 

Tidak jauh dari tempat yang diperintahkan dibangun menjadi sebuah kota tersebut, kini dijadikan Tugu Kilometer “Nol”. Lokasinya persis di sisi Jalan Asia-Afrika, seberang Hotel Savoy Homann Bidakara. Dari tempat ini jarak kota Bandung dengan kota-kota lainnya ditentukan.

Di belakang tugu tersebut terdapat monumen “mesin giling” milik Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Barat. Bagaimana hubungan monumen tersebut dengan Tugu Kilometer “Nol” tidak begitu jelas, mengingat pembangunan jalan raya pos lebih banyak mengerahkan tenaga manusia dengan peralatan sederhana. Yang namanya mesin giling, pada saat itu belum masuk ke Hindia Belanda.

Di bagian bawah monumen mesin giling itu terdapat prasasti yang ditanda-tangani Gubernur Jawa Barat Drs Danny Setiawan Msi pada tanggal 18 Mei 2004. Isinya antara lain mengungkapkan, bahwa tugu tersebut merupakan monumen lambang dedikasi bagi korban kerja paksa rakyat Priangan. Membaca prasasti tersebut, seorang wisatawan sempat bertanya-tanya, “Kalau memang maksudnya begitu, kenapa yang dipajang justru mesin giling? Kenapa tidak dibangun saja monumen yang memang menggambarkan bagaimana peristiwa itu terjadi?”

****

Walaupun surat yang dibuat Daendels tersebut merupakan salah satu sumber akurat, namun hal itu ditampik Tim Peneliti Hari Jadi dan Penulis Sejarah Kota Bandung yang dipimpin Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Prof Dr A. Sobana Hardjasaputra SS . Alasannya tanggal tersebut sebagai tanggal pindahnya bupati dan Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot sehingga dijadikan awal berdirinya kota Bandung. Sekaligus hal itu bertentangan dengan naskah “Sajarah Bandung” yang antara lain menyatakan bahwa tahun 1809 Bupati  RAA Wiranatakusumah II pindah dari Dayeuhkolot ke daerah Kampung Bogor (Kebon Kawung sekarang) dan menetap selama 2,5 tahun. Namun menurut sumber lain, sebelum menetap di Kampung Bogor, bupati sudah tinggal di Cikalintu (sekitar Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir.

Kepindahan Bupati Bandung yang menyebutkan tahun 1809 tersebut diragukan,  terutama jika dihubungkan dengan informasi dalam naskah Sajarah Bandung. Tim Peneliti Hari Jadi yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Walikota Bandung Nomor 433/SK.342 tanggal 9 Juli 1998 menduga, kepindahan bukan tahun 1809 melainkan pada pertengahan tahun 1808.

Bahwa tanggal 25 September 1810 dipilih menjadi Hari Jadi Kota Bandung karena pada tanggal tersebut keluar besluit tentang dua momentum. Pertama merupakan peresmian pindahnya pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang. Kedua, pada tanggal itu terjadi, kenaikan pangkat seorang pejabat pribumi dari semula menjabat sebagai patinggi menjadi patih. Tanggal tersebut juga ditemukan dalam “Sadjarah Soemedang ti Djaman Koempeni Toeg Nepi ka Kiwari”  (Sejarah Sumedang dari Zaman Kompeni sampai Saat Ini) yang ditulis Rd Asik Natanegara. Tulisan ini dimuat secara bersambung dalam Volksalmanak Soenda terbitan Balai Pustaka tahun 1937-1939.

Sobana yang mengutip tulisan tersebut dalam Volksalmanak Soenda 1938 halaman 96, dengan ejaan yang diubah menjadi ejaan yang diperbaharui (EYD) antara lain: “Kulantaran aya jalan besar anyar beunang ngahadean jeung ngagedean tea, dayeuh Bandung dipindahkeun ti Dayeuhkolot ka sisi jalan gede lebah sisi Cikapundung, ari dayeuh Parakanmuncang dipindahkeun ka kampung Anawedak. Bareng dipindahkeunana eta dua dayeuh, dina sabisluit keneh tanggal 25 September 1810, diangkat kana Patih Parakanmuncang, Raden Suria Patinggi Cipacing, ngaganti Raden Wirakusumah, nu dilirenkeun lantaran kurang cakep jeung kedul”.

Terjemahannya: “Dengan adanya jalan besar baru hasil perbaikan dan pelebaran, ibukota Bandung  dipindahkan dari Dayeuhkolot ke dekat jalan besar di tepi Cikapundung, sedangkan ibukota Parakanmuncang dipindahkan ke kampung Anawedak. Pemindahan itu dilakukan secara bersamaan pada tanggal 25 September 1810, bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria yang semula menjabat Patinggi Cipacing menjadi Patih, menggantikan Raden Wirakusumah karena dianggap kurang cakap dan malas”. ***

One response to ““Zorg, dat als ik terug kom hier stad is gebouwd!”

  1. Pingback: Ibukota Dekat Pesisir Pantai? | A N Abdillah·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s